Sabtu, 22 November 2008

Resedivis Spesialis Spare Part Ditangkap

BALIKPAPAN- Rustam (35), warga Kelurahan Baru Tengah Balikpapan Barat, aru 2 bulan bebas dari rumah tahanan (rutan) tertangkap lagi karena mencuri spare part mobil, Kamis (20/11) malam di Manggar, Balikpapan Timur.Aksi kejahatan Rustam tergolong unik dibandingkan dengan pencuri lain. Pasalnya, yang dicuri hanya barang-barang di dalam mobil yang mudah dijual. Seperti aki, dongkrak, ban serep atau tape mobil.Dalam beraksi, dia selalu sendiri dan mengincar mobil-mobil parkir. Sebelum diambil barang-barangnya, Rustam selalu membawa jalan mobilnya tersebut sambil memerhatikan barang-barang yang ada di dalam mobil.
Setelah apa yang dicari sudah didapat, Rustam meninggalkan mobil curiannya di pinggir jalan. Jika tidak ditemukan barang yang mudah diambil, dia juga meninggalkan seenaknya di pinggir jalan.“Tersangka hanya mencari barang yang mudah dijual dan uangnya buat makan. Sama seeprti kasusu sebelumnya. Kalau dulu hanya mobil-mobil angkutan, sekarang semua jenis mobil yang tua,” kata Kasat Reskrim AKP Dedy Murti Hariadi, Jumat (21/11).Barang bukti hasil kejahatan berupa mobil Toyota Kijang KT 2405 AA ditemukan di belakang Pos Polisi Damai. Tersangka hanya mengambil aki mobil dan sudah menjualnya.Sedangkan satu unit pick up ditemukan pemiliknya sendiri di Jl Jenderal Sudirman, Damai, Balikpapan Selatan. Namun mobil itu tidak kehilangan barang-barangnya.Saat ini Rustam masih ditahan di Mapolresta Balikpapan untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Kami masih kembangkan penyidikan karena banyak yang melaporkan kehilangan mobil,” ungkap Dedy.Sementara itu, Suwartoyo (30) ditangkap anggota Polsek Handil, Kutai Kertanegara, Kamis (20/11) karena mmebawa motor curian. Terungkapnya motor curian tersebut bermula saat tersangka tabrakan di Handil.
Warga perantauan asal Jawa Timur itu tidak bisa menunjukkan surat-suratnya kepada petugas. Ketika ditanya dia mengakui motor Supra X KT 4534 LI tersebut dicuri di Gunungsari, Balikpapan Tengah pada pagi harinya.
Toyo yang diserahkan ke Mapolresta Balikpapan tersebut mengaku jika motor tersebut diambil karena kuncinya masih menggantung. Dia tidak berniat menjual, namun hanya dipakai jalan-jalan.
Setelah disusut oleh penyidik, tampaknya tersangka sedang mengalami depresi berat atau stres. “Kita periksa dulu, kalau memang tersangka mengalami gangguan jiwa ya diserahkan ke Kantor Pemberdayaan Masyarakat,” kata Dedy

Jumat, 21 November 2008

Rumah Tersangka Ayah Perkosa Anaknya Telah Kosong


MENYUSURI perkampungan rumah tersangka, DK, seorang ayah yang memperkosa putrinya yang tinggal di Jalan Wiyata, RT 6 Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan terlihat deretan rumah yang sederhana. Rumah beratap rendah dihuni 56 KK cukup banyak. Rumah keluarga DK berada disamping landasan pacu pesawat udara dalam keadaan terkunci.

Rumah itu berlantai dua terdiri bangunan beton batu lantai pertama dan kayu pada bagian lantai kedua. Tetangga tersangka dan korban terlihat duduk santai di depan rumahnya masing-masing. Meski sedang santai, ramah dan canda mereka merasa malu terjadinya perbuatan bejat seorang ayah adalah tetangganya.

"Saya jangan ditanya soal itu karena aib kan jangan dibuka. Sejak kemarin, rumah korban sudah kosong. Tidak tahu kemana pergi istrinya (DK). Anak-anaknya juga sudah tidak ada di rumah," kata seorang warga tak ingin namanya disebutkan.

Tersangka DK dikenal tetangganya seorang baik prilakunya. Keluarga DK dikaruniai enam anak. Untuk menafkahinya, DK bekerja di perusahaan namun tak lama dan ia selalu berganti pekerjaan. Terakhir tersangka menyelami profesi sopir angkot cadangan.

Sementara itu, Tribun menghubungi sejumlah tokoh masyarakat setempat enggan berkomentar atas kejadian memilukan korbannya anak dibawah umur. Ketua RT dan wakilnya merasa kecolongan adanya pemerkosaan ayah kepada sang anak. Bahkan mereka ikut resah dan stress memikirkan keluarga tersangka.

"Saya mendengar sore hari jam tujuh, malam itu juga saya tidak bisa tidur. Selama dua hari saya susah makan. Mau minum pun terasa sesak dan tidak bisa saya telan," keluh pria berumur 56 tahun yang menjadi ketua RT, di tempat tinggal tersangka.

Tersangka DK (40), melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap Putri (nama samaran) tahun 2006. Saat itu korban berusia 12 tahun dan duduk di kelas 5 SD. Tindakan bejatnya diketahui saat ini, ketika Putri duduk di bangku SMP.

Korban didampingi keluarganya melaporkan ke Polresta Balikpapan, Sabtu (15/11) lalu. Akibat perbuatan yang tidak terpuji itu, DK dijebloskan ke tahanan Mapolresta Balikpapan. Ia menjalani proses hukum untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.

Tersangka DK berada di tahanan Mapolresta Balikpapan menyesali perbuatan dilakukannya dua tahun lalu. Ia tega melakukan perkosaan terhadap anaknya akibat tak tahan menahan nafsu. Ketika terjadi perkosaan korban berada di rumah dan tersangka yang pulang kerja melihat seorang anaknya perempuan sedang menonton televisi. Tersangka lalu mendekati korban dan memperkosanya.

"Tersangka DK dijerat dengan pasal 287 ayat 1, 290, dan 294 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 82 Undang-undang No 23 Tahun 2003 tentang perlindungan anak. Ancaman hukuman penjara minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun," kata Kasat Kasat Reskrim AKP Dedy Murti Hariadi, Jumat (21/11).

Terungkapnya kasus yang sudah berlangsung selama 2 tahun tersebut bermula ketika Putri menceritakan kejadian itu ke pacarnya berinisial JM. Lantas JM menceritakan ke paman korban, hingga mereka sepakat melaporkan ke polisi.

Peristiwa itu pertama kali terjadi pada Desember 2006, pada malam takbiran sekitar pukul 23.00 Wita. Saat itu, Putri sedang menonton televisi di ruang tamu bersama adiknya yang masih berusia 3 tahun. DK pulang ke rumah melihat korban menonton televisi. Kejadian itu terulang lagi pada Mei 2007 dan Juni 2007. Kasus ini lalu ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). (m20)

Kamis, 20 November 2008

Hiu Menabrak Perahu Nelayan Teritip

KAWASAN pesisir Pantai Tritip, Balikpapan Timur, gempar. Dalam beberapa hari ini sejumlah nelayan dan para pembudidaya rumput laut, merasa cemas sejak munculnya seekor ikan hiu yang sirip ekornya memiliki ketinggian sekitar setengah meter. Perburuanpun segera dilakukan. Hasilnya?

ADALAH Dewa, satu dari sekian saksi mata yang melihat binatang buas itu berkeliaran di bawah perahunya. Sore itu ia bermaksud ke lokasi pembudiyaan rumput laut yang ia kelolanya. Menumpang perahu kayu bercat merah putih, Dewa bergerak sendiri ke tengah laut. Di tengah perjalanan, ia melihat seekor ikan hiu melintas di sekitar perahunya. "Perahu saya sempat bergetar akibat ditabrak ikan hiu," kenangnya. Karena ketakutan, Dewa tak berani melaut. Ia balik kandang dan menceritakan kejadian itu kepada rekan-rekannya.
Pengalaman yang sama juga dialami Ardiansyah. Pria berpostur jangkung itu mengaku sempat ketakutan ketika perahu yang ditumpanginya seorang diri, tiba-tiba ditabrak seekor hiu. "Perahu saya nyaris terbalik. Tubuh ikan itu kira-kira besarnya seperti drum. Saya bergegas balik ke pantai, gara-gara perahu yang saya tumpangi ditabrak hiu," tutur Ardiansah.
Ceritanya, siang itu ia seorang diri pergi melaut. Saat perahunya berada di tengah laut, tiba-tiba ia melihat sirip hiu yang tinggi diperkirakan setengah meter lebih. Binatang itu lalu menabrak perahunya dari bawah. Bahkan, perahu yang ia tumpangi nyaris terbalik. "Saya sendiri mau jatuh ke laut. Untungnya saya bisa mengimbangi," kata Ardi.
Sementara itu, pencarian ikan diduga hiu berlangsung kemarin siang. Tim beranggotakan tiga orang yaitu staf Kelurahan Teritip Ahmad, Ketua RT 29 Johan dan nelayan setempat Nanang. Mereka bertiga berangkat dari sungai Aji Raden sekitar pukul 09.00 pagi menuju kawasan munculnya ikan hiu.
Sedangkan Pak Lurah Teritip, Siswanto dan stafnya berjalan kaki lewat darat menuju pantai. Kawasan ditemui ikan hiu berada di pesisir pantai yang terletak persis belakang Wisata Penangkaran Buaya Teritip.Sebelum menuju pantai terdapat hutan mangrove dan tambak milik warga. Sedangkan disisi pantai terdapat "gosongan tinggi" sebutan daratan terbentuk bebatuan karang laut.
Cukup lama berkeliling di pesisir pantai Teritip yang sedang surut. Beberapa lokasi dijumpai ikan hiu oleh nelayan disinggahi. Mereka berdiri dan melihat ke dasar laut. Tak ada tampak hewan laut menyerupai ikan hiu. Cuaca siang hari sekitar pukul 12.00 mewarnai pencarian binatang buas yang meresahkan warga.
"Informasi awalnya dari masyarakat bahwa ada ikan hiu menabrak perahu nelayan sore hari, Rabu (19/11). Staf kelurahan saya juga mendengar kabar ada ikan hiu tersebar di masyarakat waktu itu," kata Kepala Lurah Teritip, Siswanto, Kamis (20/11).
Informasi tersebut menjelaskan ada warga yang melihat secara langsung ikan hiu berkeliaran di bawah perahunya saat di tengah laut. Warga juga ada yang melihat secara langsung sirip ikan, ciri khas ikan hiu.

"Apabila ada yang mengalami persis seperti informasi ini. Agar menghindar dan segera menepi ke pantai. Kami dari unsur Kelurahan Teritip, Polisi Masyarakat (Polmas) dan Trantib sudah melakukan pengecekan info yang langka ini," kata Siswanto menjabat dua tahun sebagai lurah di Teritip.
Menurutnya, kehidupan aktifitas nelayan tidak akan ikut terganggu dengan kabar dan kejadian gangguan ikan hiu. Pihaknya juga sudah mengadakan evaluasi bersama Polsek dan Kecamatan Balikpapan Timur di sela rapat koordinasi rutin, kemarin.
"Saya juga telah melaporkan kepada Dinas Perikanan Balikpapan apa betul nggak adanya ikan hiu di pesisir pantai Balikpapan. Nyatanya, mereka juga baru tahu. Tapi rencananya kami akan terus menggali informasi ikan hiu yang mengganggu nelayan," kata Siswanto. (bec/m20)

Rabu, 19 November 2008

Sumur bor Semburkan Gas & Lumpur

BALIKPAPAN, TRIBUN - Semburan gas dan lumpur terjadi lagi di sumur milik warga Sukadi (56) di Jalan Mulawarman Gang Barokah RT 14 Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur, Rabu (19/11). Semburan tersebut awalnya mengeluarkan air tanah dengan ketinggian kaki orang dewasa sejak pukul 12.00 dini hari.

Penyebab terjadinya semburan ini akibat pembangunan sumur bor. Sukadi mengaku ia membangun sumur bor sejak Senin lalu (17/11). Pembangunan sumur tersebut membuat saluran pipa dengan kedalaman sekitar 48 meter dari permukaan tanah dan air yang keluar masih air tanah.

Namun sejak kemarin, semburan air bercampur lumpur mengandung gas perlahan-lahan keluar semakin kencang. "Mulai pukul 2.00 dini hari, semburan air semakin kencang dan tingginya mencapai 12 meter. Saya dan warga disini khawatir dan melapor ke Polsekta Balikpapan Timur," kata Sukadi, pemilik sumur.

Polisi mendapat laporan bergegas mendatangi lokasi titik semburan. Petugas pun mengamankan lokasi dengan memasang tanda police line. Garis polisi tersebut dipasang pada titik semburan dengan jarak radius sekitar lima meter. Selain itu polisi juga bergegas melaporkan ini ke pihak Pertamina.

"Ada empat orang petugas Pertamina yang datang sekitar pukul 03.00 dini hari. Kata mereka semburan ini tidak berbahaya cuma mengandung gas sekitar 10 persen di dalam air tanah," kata Sukadi.


"Selama empat hari membuat sumur bor tidak terjadi apa-apa. Apalagi adanya tanda-tanda semburan gas atau air. Tapi kemarin baru terjadi semburan. Sebenarnya sumur bor ini rencananya untuk kebutuhan air di daerah rumah saya karena sulit mendapatkan air," kata Sukadi.

Kemarin siang, warga sekitar mulai berdatangan untuk melihat titik semburan hanya tinggal sekitar ketinggian 4 meter. Tidak ada warga ingin mendekat, semburan gas dan lumput mengotori lokasi sekitarnya.

Pantauan Tribun, titik semburan gas dan lumpur terletak bagian sumur bor disampingi rumah milik Sukadi. Bagian pipa paralon menyalurkan air tanah, pecah. Pada bagian pipa terdengar suara semburan cukup keras bersahutan. Lumpur yang keluar dari tanah mirip "lumpur Lapindo" berwarna abu-abu cairan kental terus menerus mengalir ke lokasi sekitar titik semburan. (m20)

Pernah Dilarang Membangun Sumur Bor
Kapolsekta Balikpapan Timur Iptu Fitriadi mengatakan pihaknya telah mengamankan lokasi titik semburan lumpur dan air sejak pukul 02.00 dini hari, Rabu (19/11). Ia mendapat laporan dari warga bahwa semburan tersebut dari sumur bor semakin lama semakin kencang mengeluarkan gas dan lumur ke atas permukaan tanah. "Sementara ini kami amankan dulu lokasi titik semburan gas dan lumpur. Kami juga menghubungi pihak Pertamina yang mempunyai ahli bidang minyak dan gas meneliti kejadian ini. Penyebab semburan diduga adanya pembangunan sumur bor air tanah dengan kedalaman 48 meter," kata Fitriadi, Rabu (19/11).

Menurut Fitriadi, sejak tahun 1980 sebenarnya sudah ada himbauan di wilayah pantai Lamaru terutama daerah rumah warga Sukadi di RT 14 Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur untuk tidak membangun sumur bor. "Ada beberapa kasus terjadinya semburan gas dan lumpur beberapa waktu lalu. Penyebabnya sama, karena warga melakukan pengeboran ke dalam tanah ," kata Fitriadi.

Namun warga yang sadar dan sudah mengetahui adanya kandungan gas dalam tanah seringkali melupakannya karena desakan kesulitan kebutuhan air. Warga terpaksa mencari cara yang mudah mendapat air yaitu membangun sumur bor untuk kebutuhan air.

Terpisah, seorang warga mengakui bahwa daerah rumah tinggalnya di pantai lamaru sangat sulit mendapat air padahal kebutuhan primer satu ini sangat penting untuk kehidupan sehari-hari. "Disini seminggu pernah warga tidak mendapat air. Kami sangat kesulitan kalau tidak membuat sumur bor untuk pasokan air," kata Ardiman, warga setempat, RT 14 Kelurahan Lamaru. (m20)

Selasa, 18 November 2008

Congkel Jendela Pencuri Bawa Kabur 9 Jam Tangan

* Pencurian rumah kosong kembali terjadi
BALIKPAPAN, TRIBUN - Pencurian rumah kosong kembali terjadi. Kali ini korbannya Tomy, seorang Humas perusahaan minyak dan gas, pemilik rumah di perumahan elit No HE10, RT 26 Kelurahan Damai, Balikpapan Selatan. Pencurian terjadi sekitar pukul 11.00, Selasa (18/11) dimana pelaku membawa kabur sembilan jam tangan, laptop, kamera digital dan sejumlah perhiasan emas. Kerugian diperkirakan Rp 25 juta.
"Istri saya pertama kali yang mengetahui ada pencurian. Dia pulang ke rumah sudah dalam keadaan berantakan. Ada tiga kamar yang dibongkar pencuri. Istri saya langsung menghubungi saya," kata Tomy, Selasa (18/11).
Saat kejadian, Tomy sedang bekerja ke kantor sedangkan istrinya pergi keluar rumah. Pelaku pencurian masuk ke dalam rumah korban melalui jendela. Ventilasi udara itu terkunci dicongkel paksa menggunakan benda tajam. Ini terbukti dari bekas rusak bagian les jendela yang terbuat dari kayu.
Jendela yang tidak berteralis besi ini menjadi tempat masuk dan keluar pelaku pencurian. "Memang jendela rumah kami tidak berteralis besi namun perlu tolong pengelola perumahan memperhatikan aspek keamanannya karena kasihan penghuninya," kata Tomy.
Rumah Tomy dan keluarganya berada di perumahan yang relatif tenang dan sepi. Ia dan warga lainnya tinggal di sebuah perumahan elit mendapat pelayanan keamanan sekuriti dari pos penjagaan yang terdapat di gerbang utama akses keluar masuk jalan raya umum.
Terpisah, Kanit Reskrim Polsekta Balikpapan Selatan Iptu Ardian mengatakan pihaknya sedang menyelidiki kasus ini dan belum bisa memberi keterangan lebih lanjut. "laporan korban belum saya terima, nantinya kalau sudah ada baru bisa kita tindak lanjuti," kata Ardian.
Sebelumnya, seperti diberitakan Tribun. Pencurian rumah kosong terjadi bulan Oktober lalu di rumah warga bernama Lilik, Jalan Video yang kehilangan perhiasan emas berlian senilai Rp 100 juta lebih. Dan korban kedua, Nur Hayati warga Jalan MT Haryono Gang Mufakat II menderita kerugian Rp 30 Juta setelah perhiasan emasnya hilang dibawa kabur. Kedua rumah korban dirusak pelaku pencurian.
Dari pemeriksaan kepolisian terhadap pencurian, motif melakukannya karena para tersangka ingin mengambil jalan pintas mencari penghasilan karena tidak mendapat kerja. Disisi lain, tuntutan kebutuhan hidup meningkat. (m20)
Himbauan
1. Usahakan tidak menyimpan atau meletakan perhiasan berharga emas-berlian berlebihan di lemari atau kamar di dalam rumah.
2. Saat meninggalkan rumah, usahakan dalam keadaan terkunci dengan kunci ganda pengaman (teralis besi atau gembok pagar dan pintu)
3. Informasikan kepada tetangga atau pos pengamanan terdekat bila sedang meninggalkan rumah
4. Laporkan setiap kejadian pencurian dengan segera ke Pos Polisi terdekat atau Polsekta di tiap wilayah
Sumber: Polresta Balikpapan (m20)

Minggu, 16 November 2008

Dua Gudang Beras dan Toko Grosir Kosmetik Hangus


* Kebakaran TPS Pandan Sari pukul 12.00 dinihari
BALIKPAPAN, TRIBUN - Kerugian materi akibat kebakaran di blok C Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Pandasari cukup besar. Menurut sejumlah korban kebakaran, ada dua gudang penyimpanan beras terbakar. Masing-masing jumlah barang terbakar sekitar 400 dan 450 karung beras. Selain itu ada satu toko sekaligus gudang menderita kerugian terbesar yaitu grosir komestik.
"Saya mendapat kabar toko Haji Rusli (pemilik toko grosir komestik) terbakar. Saya pelanggan setianya karena barangnya bagus dan berasal dari banjar," kata Anto (30) saat berada di lokasi kebakaran.
Gudang beras berada di dalam blok kios pasar tersebut. Sedangkan toko kosmetik terletak di depan bangunan hangus terbakara rata dengan tanah. Tak ada barang yang bisa diselematkan. Letak blok C berada di dalam pasar menyulitkan petugas pemadam kebakaran.
Kebakaran menghanguskan blok C TPS (tempat penampungan sementara) Pasar Pandan Sari sekitar pukul 23.00, Minggu (16/11) ketika sedang warga berisitrahat pulang ke rumahnya. Api menghanguskan bangunan kayu yang dihuni 174 petak beserta isinya. Kerugian dari kebakaran mencapai ratusan juta rupiah.
Kemarin siang, teriknya panas matahari tak menyurutkan warga sekitar pasar mengais puing bekas kebakaran. Salah seorang warga mendapati barang dagangan berupa plastik yang bisa digunakan kembali. Ada juga satu tas kresek berisi uang logam recehan.
Seorang korban kebakaran, Ardiansyah (35) mengatakan ia tak bisa menyelematkan mesin penggilingan bumbu masakan tempat usahanya. "Saya baru tahu pukul 01.00 dini hari, semua sudah hangus," katanya
Ardi menempati TPS Pasar Pandasari hampir dua tahun lebih. Selama itu ia berusaha penggilingan bumbu masakan yang sebelumnya menjual sayur-sayuran. Untuk melanjutkan usahanya, Ardi dibantu istrinya membuat lapak meja untuk menaruh dagangan sayur.
"Besok saya harus jualan sayur dan harus buat lapak meja. Maunya sih segera pindah ke pasar Pandasari yang baru. Tapi kami ini hanya pedagang ikut aturan pemerintah saja," kata Ardi. Menurutnya, peresmian pasar Pandansari baru bulan Februari 2009 sangat terlalu lama. Dan para pedagang sudah banyak jadi korban kebakaran akibat semakin semarutnya pasar TPS Pandasari.
Terpisah, Kapolsek Balikpapan Barat, AKP Sebpril Sesa mengungkapkan pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab kebakaran. Polisi masih melakukan pemeriksaan saksi dan olah tempat kejadian perkara. Lokasi kebakaran kini diberi tanda police line.
"Kami masih periksa para saksi yang melihat api pertama kali saat kejadian di malam hari. Kami juga menunggu hasil olah TKP untuk mencari bukti penyebab kebakaran," kata Sebpril. Sebelumnya, pada hari lebaran 2 Oktober lalu kebakaran juga melanda TPS Pasar Pandan Sari. Bangunan hangus terbakar saat itu tiga gudang dan 63 kios. (m20)

Penyebab Kebakaran Belum Diketahui

Kapolsek Balikpapan Barat AKP Sebpril Sesa mengatakan pihaknya sedang menyelidiki kasus kebakaran menghanguskan 174 kios blok C Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Pandsari yang terjadi sekitar pukul 24.00 dini hari, Minggu (16/11).
"Penyebab kebakaran belum dapat diketahui karena masih dalam penyelidikan. Ada tiga saksi sudah dimintai keterangan, saksi ini adalah yang melihat api kebakaran dan berada di lokasi," kata Sebpril.
Salah satu saksi adalah penjaga malam yang berada di dekat lokasi saat kejadian kebakaran. Api mulai membakar kios pada saat sebagian pemilik kios pulang dan para warga sekitar pasar terlelap. Dari sejumlah keterangan pedagang, mereka menduga arus pendek konslet listrik.
"Kami belum bisa secepatnya menyimpulkan penyebab kebakaran karena kejadiannya cepat sekali dan pada waktu malam dini hari. Namun bila selesai pemeriksaan olah TKP, pasti akan kami beritahu," kata Sebpril.
Hingga kemarin siang, tanda police line terpasang sepanjang keliling blok kios dari kayu tersebut. Tidak seperti biasanya, tanda pembatas tidak menunjukan salah satu petak kios asal mula api. Warga juga tampak tak menghiraukan tanda larangan polisi dengan masuk ke lokasi bekas puing kebakaran. (m20)

Sedang Memperbaiki Tanggul Tambak Diterkam Buaya

Sabtu sore (15/11) sekitar pukul 18.00 air laut mulai pasang. Seperti biasanya pintu air kolam tambak dibuka dan aliran air laut masuk ke tambak. Kesempatan itu digunakan penjaga tambak, Muhamad Husaini (50) berkeliling memantau kondisi tanggul di RT 1 kelurahan Sesempohan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Bila ada bagian tanggul yang rendah dan jebol. Ia memperbaikinya dengan mengeruk dan menumpuk tanah liat bagian yang mulai retak dan rusak. Tanggul juga berfungsi jalan setapak di tengah tambak menjadi tempat terjadinya penerkaman buaya terhadap Husaini.

Saat kejadian, ia berendam di kolam mengeruk tanah pinggir tanggul. Husaini belum bekeluarga ini pun membungkuk menggali tanah. Tanah itu untuk tumpukan pembatas kolam. Tak ada rasa menaruh curiga dengan ancaman bahaya jauh dari pemukiman.

Tambak berada tak jauh dari sungai muara mengalirkan laut menjadi tegang. Ketika itu buaya diperkirakan empat meter tiba-tiba datang dan menerkam. "Saya sedang memperbaiki tanggul, tiba-tiba datang buaya dari balik tanggul itu. Tangan kanan saya pun diterkam," kata Husaini.

Tangan korban yang terjepit mulut buaya belum bisa melumpuhkan Husaini. Ia sekuat tenaga bertahan dari terkaman mengancam nyawanya. Tenaga yang dimiliki korban sudah tak cukup melepaskan terkaman mulut buaya.

Tak mungkin melawan, Husaini berpikir sambil beristirahat sejenak. Ia pun mulai mencari benda yang bisa digunakan untuk senjata. Sebilah kayu pohon bakau ia temukan kemudian ditusukan dua mata tajam buaya tersebut.

"Ada kayu disebelah badan saya, benda itu saya tusukan ke matanya. Barulah gigitannya lepas dan saya bisa menyelematkan diri," kata Husaini. Buaya yang menyerangnya pun entah kemana, korban beranjak dengan kondisi berdarah ke pondoknya.

Di tempat istirahat itu, Husaini berteriak minta tolong. Keponakannya melihat kondisi parah korban segera memberi pertolongan pertama. Kain sarung dibalutkan seluruh kedua tangan korban. Korban lalu dibawa dari tambak berjarak sekitar dua kilometer dari akses jalan raya.

Kondisi parah tubuh Husaini tak mungkin disembuhkan di Panjam. Keluarga memutuskan membawa korban ke Balikpapan lewat transportasi laut. Hampir satu jam untuk menempuh perjalanan laut dengan kapal klotok.

Tiba di Balikpapan , korban dilarikan ke Rumah Sakit Tentara Dr R Hardjanto. Korban mendapat pengobatan luka Petugas medis merawat memperban seluruh kedua tangan korban. (m20)